sansime

Blog Stats
pelupuk malam saat partitur senja karam.
Bumi Manusia
Child of All Nations
Jejak Langkah
House of Glass
Penuntun kaum buruh
Di Bawah Lentera Merah: Riwayat Sarekat Islam Semarang Sampai Tahun 1920
The Communist Manifesto
Aku Ingin Jadi Peluru
Gugur Merah: Sehimpunan Puisi Lekra 1950-1965
Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto
Menggelinding 1
Rasa takut dan berani begitu tipis batasnya. Seperti anak ini, tatapan tajam matanya ia hujamkan pada para militer yang tak layak lagi disebut sebagai manusia. Tak ada lagi rasa takut yang dilukiskan oleh anak ini pada mereka: para pembunuh manusia.

Terlepas dari isu agama, konflik teritorial dan lain sebagainya, bagi saya, apa yang sedang terjadi disana adalah pelanggaran berat yang merenggut paksa hak hidup manusia di muka bumi ini.

Dan saya percaya, bahwa semesta selalu menyayangi ia yang berani.

Rasa takut dan berani begitu tipis batasnya. Seperti anak ini, tatapan tajam matanya ia hujamkan pada para militer yang tak layak lagi disebut sebagai manusia. Tak ada lagi rasa takut yang dilukiskan oleh anak ini pada mereka: para pembunuh manusia.

Terlepas dari isu agama, konflik teritorial dan lain sebagainya, bagi saya, apa yang sedang terjadi disana adalah pelanggaran berat yang merenggut paksa hak hidup manusia di muka bumi ini.

Dan saya percaya, bahwa semesta selalu menyayangi ia yang berani.

Adalah Rakyat yang Menjadi Pemenang di Hari Ini.

Sebagaimana kita tahu bersama bahwa negeri yang terletak diantara samudera pasifik dan hindia ini sangat kaya akan perbedaan. Mulai dari keyakinan, bahasa, suku, corak, adat hingga budaya memiliki warna yang tak sama dari sumatera hingga papua. Perbedaan tersebut tidak berhenti sampai disitu saja. Pada hari ini, rakyat Indonesia kembali disuguhi oleh dua warna politik yang tak seragam: Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Waktu pun berjalan. Kampanye dari kedua kubu dikumandangkan melalui instrumen apa saja, yang penting sampai ke telinga, hati dan nurani rakyat Indonesia agar pada hari ini rakyat dapat membuat suatu keputusan di Tempat Pemungutan Suara.

Perhitungan cepat hasil pemungutan suara dari berbagai lembaga survey telah dirilis. Sebagian besar menyatakan bahwa Jokowi-JK mendapatkan perolehan suara yang lebih banyak ketimbang pasangan Prabowo-Hatta. Sementara hasil resmi baru dapat diketahui pada perhitungan yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum yang memakan waktu +/- 10 hari yang akan datang. Dan, bagi saya pribadi, pemenang dari proses demokrasi ini adalah rakyat.

Rakyat telah berhasil berdemokrasi. Segala perbedaan yang ada tidak membuat rakyat dari kedua kubu merasa kalah ataupun menang sehingga hampir tidak ada konflik secara fisik yang signifikan diantara kedua arus politik yang berbeda ini. Semua bermuara pada satu samudera yang sama dengan damai walaupun masih ada riak dan riam yang dapat kita temui saat dua arus besar tadi bertemu menjadi satu. Konflik-konflik secara verbal mungkin masih dapat kita saksikan secara langsung maupun melalui berbagai media sosial yang ada, namun hal itu bukanlah perkara besar walaupun kadang dapat menjadi pemicu serius.

Jika kembali melihat pada hasil perhitungan cepat surat suara, maka sebagian besar menyatakan Jokowi-JK terpilih sebagai pemimpin Indonesia kelak. Namun pertama yang perlu diingat, ini semua adalah awal dari kemenangan rakyat dalam melaksanakan demokrasi dan bukan sebagai kemenangan Jokowi-JK. Mereka berdua adalah bagian dari rakyat yang dipilih oleh rakyat untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai pemimpin rakyat. Hal kedua yang juga perlu diingat, Jokowi-JK tidaklah sendirian. Dibelakangnya ada sosok Megawati, Wiranto dan lain-lain. Tentunya saya berharap ingatan kita semua masih tajam kepada putusan-putusan dan tindakan yang pernah dijalankan oleh mantan presiden dan mantan panglima TNI yang berada di balik sosok Jokowi-JK ini. Tugas berat bagi kita semua setelah ini adalah memonitor dan mengevaluasi kinerja dari tokoh-tokoh tersebut agar kemenangan rakyat tak hanya berhenti di hari ini.

Cerita Di Atas Rumah Kawan Saya.

Tiga tahun yang lalu kawan saya pernah nulis ini:

image

Kebetulan saya pernah naik pesawat yang melintas di atas rumahnya kawan saya yang baik hati itu. Ada sedikit cerita perjalanan antara saya dan pesawat.

Berdasarkan ilustrasi engineering dibawah ini: (sumber)image

Ya, saya sependapat pada konsep dasar itu. Faktor magic dan very important magic sangat berperan dalam membuat pesawat lepas landas dan mengayun di udara. Jadi, saya tidak pernah percaya pada iklan-iklan maskapai dengan kalimat dibawah ini:

image

Akan lebih jujur jika iklan diatas diganti menjadi "We make people swing." Kemampuan untuk terbang hanya dimiliki oleh seekor burung dan serangga serta malaikat yang memiliki sayap. Burung mengepakkan sayap untuk terbang sedangkan pesawat harus berlari dulu dengan kecepatan tertentu di landasan pacu hingga udara menyatu dengan instrumen-instrumen magic hasil rekayasa manusia di tubuh pesawat yang kemudian membuat ia mampu mengayun di udara.

Hal itu membuat saya tidak pernah benar-benar merasa nyaman saat mengayun di atas rumahnya kawan saya yang baik hati itu.

Seminggu yang lalu, 15 menit sebelum saya mendarat di Adisucipto, cuaca diatas gunung Merbabu-Merapi sangatlah buruk. Awan hitam bereuni, angin berhembus kencang ke segala penjuru, turbulensi labil bergelombang, serta petir yang berdansa di udara mengacaukan keselarasan instrumen-instrumen magic yang ada di tubuh pesawat. Pesawat bergetar kanan-kiri-serong-naik-turun. Penumpang yang tadinya tidur menjadi terjaga. Ada pula yang tadinya sok tenang dengan membaca majalah fashion kemudian dengan cepat mengganti bacaannya itu dengan al-kitab. Kalau saya sendiri memang sudah tidak tenang saat mulai membeli tiket pesawat.

Masa kritis yang tidak terekspos oleh media itupun berlalu. Pemandangan lampu-lampu neon kota Yogyakarta yang muncul di jendela pesawat menjadi pelipur lara. Namun 15 menit pada saat itu terasa sangat lama. Berbeda halnya dengan 15 menit yang dirasakan oleh anak-anak SD saat jam istirahat yang berlalu begitu cepat. Apa jadinya bila cuaca buruk terjadi sepanjang perjalanan? Apakah faktor-faktor magic itu kuat menahan terpaan itu semua?

Tuntutan pekerjaan yang jauh dari rumah membuat saya menjadi pengguna jasa penerbangan secara rutin. Tiap 6 minggu + 2 minggu kemudian saya harus naik pesawat agar sampai di lokasi kerja dengan tepat waktu. Bisa dibilang tiap 8 minggu sekali saya naik pesawat 2 kali. Atau bisa juga dibilang tiap sebulan sekali saya naik pesawat. Maka dalam setahun, saya bisa 12 kali naik pesawat. Saya sebagai penumpang pesawat hanya bisa pasif dan menaruh harapan pada faktor-faktor magic yang ada di tubuh pesawat sebagai konsep dasar yang membawa saya selamat sampai tujuan. Penumpang seperti saya ini tidak pernah tahu mengenai kondisi dan umur mesin pesawat, kinerja pilot, barang-barang penumpang lain yang ada di bagasi, kapasitas fuel (avtur) pesawat, kondisi cuaca sepanjang penerbangan, sistem navigasi dan masih banyak faktor lainnya.

Tak ada cerita yang lebih indah di dalam pesawat kecuali saat mendarat dengan selamat.

– Himne Partai (9 plays)

Selamat Ulang Tahun.

Kembali mengemas rumah untuk menemani langkah. Sampai jumpa lagi, Yogyakarta.

Kembali mengemas rumah untuk menemani langkah. Sampai jumpa lagi, Yogyakarta.

Anonymous asked: Beli buku tulis pramoedya anantatoernya dimana ya mas? Hehe trims

Buku tulis itu bukan saya yang beli hehe. Di halaman belakang buku tulis tersebut tertera alamat: vitarlenology.net. Mungkin di beranda website-nya terdapat informasi yang lebih lengkap (:

Serius jangan main itu, dapat menyebabkan gangguan menulis dan berkarya :p

Serius jangan main itu, dapat menyebabkan gangguan menulis dan berkarya :p

Pak Jokowi Capres?

Saat santai sore di pesisir Sungai Belayan, saya iseng membaca kabar-kabar yang datang dari pulau seberang. Agak terkejut saat saya menyimak tulisan dari berbagai media yang menyatakan bahwa Pak Jokowi dimandatkan oleh Ibu Megawati (PDI-P) untuk mencalonkan diri menjadi presiden.

Disini saya berpikir bahwa Ibu Mega terkesan buru-buru saat mengambil putusan ini di dalam pilpres 2014. Kenapa demikian? Menurut saya, program-program yang telah ditetapkan oleh Pak Jokowi sebagai Gubernur Jakarta belum semuanya terlaksana dan dapat dirasakan oleh warga Ibukota. Saya jadi bertanya: “Kenapa ya kok Bu Mega buru-buru ngajuin Pak Jokowi jadi Capres?” dan “Kenapa Bu Mega nggak ngasih kesempatan dulu aja buat Pak Jokowi berkarya selama ia menjabat sebagai gubernur?” Kan kalau begitu skenarionya, Bu Mega bisa mengevaluasi kinerja Pak Jokowi selama beliau menjabat gubernur Jakarta kemudian dapat dinilai oleh musyawarah besar/ kongres partai yang nantinya dapat dinyatakan layak/ tidaknya bagi Pak Jokowi maju capres lima tahun yang akan datang.

Bukannya saya pesimis pada kemampuan Pak Jokowi maupun Bu Mega dan PDI-P, hanya saja strategi politik Bu Mega sangat tidak terkonsep dan terkesan mau cepatnya saja (instan) dengan melihat pamor Pak Jokowi yang sedang naik daun tanpa melihat kondisi aktual yang telah dikerjakan oleh Pak Jokowi selama ini. Sebab permasalahannya adalah harapan yang diusung oleh rakyat kepada Pak Jokowi sangat-sangatlah tinggi untuk memperbaiki bangsa ini. Nah, jangan sampai nantinya hal ini justru menjadi boomerang bagi Pak Jokowi dan PDI-P saat nantinya harapan tersebut sirna lantaran tak mampu dipenuhi oleh Pak Jokowi selama ia (jika menang) menjadi presiden.

Jadi hemat saya sebagai orang awam yang menulis opini politik, seharusnya Ibu Mega memperkokoh dulu pondasi partainya yang masih banyak celah dan membiarkan Pak Jokowi matang ditempa Jakarta hingga beliau benar-benar siap membenahi Indonesia di tahun 2019.

Yah, demikian yang masih mengganjal di kepala saya selepas sore tadi.

Bandung, 7-9 Maret 2014.

(:

Buku catatan ini merupakan pemberian dari Inten saat saya berkunjung ke Bandung sebagai alternatif bagi saya bila tak lagi sempat menulis online di tumblr selama berada di Desa Gunung Sari, Tabang - Kalimantan Timur.
Pesan yang tertera dari Pramoedya di bagian Sampul dan Halaman Penutup dari buku catatan ini akan selalu saya ingat di hari ini dan hari depan yang akan datang menyapa. Terimakasih, Inten.

Tempat Ketiga.

Hangat lampu malam Adisucipto memeluk langkah ini saat mendarat di atas landasan bandara yang masih basah sisa hujan kala senja setelah enam minggu lamanya saya menjelajah waktu di tanah rantau.

Mulai tahun ini, kehidupan saya berpindah-pindah. Warna hijau pada tabel dibawah adalah hak yang saya miliki untuk bervakansi. Sedangkan tabel warna putih adalah jadwal saya untuk bekerja. Warna merah adalah jatah libur yang dapat saya ambil di sela-sela waktu kerja.

image

Ada tiga tempat yang akan menjadi destinasi tetap untuk selalu saya singgahi. Pertama, tentu saja Yogyakarta. Tempat dimana saya dilahirkan. Ibukota bagi diri saya sendiri. Kemanapun kaki ini melangkah, Yogyakarta adalah rumah, tempat bersandar melepas lelah, tempat untuk berbagi cerita bersama sahabat dan kawan-kawan hingga malam menepi di penghujung pagi, serta, sebagai tempat untuk memberi senyum hangat pada ibu saya di sepanjang hari-hari tuanya ini.

Tempat kedua yang akan menjadi destinasi berikutnya adalah desa Gunung Sari, Tabang - Kalimantan Timur. Dulu, ketika berstatus masih menjadi pelajar dan mahasiswa, saya adalah harapan bangsa. Kemudian ketika lulus dari perguruan tinggi dan belum mendapatkan pekerjaan, status saya adalah beban bangsa. Desa Gn.Sari adalah tempat bagi saya untuk berkarya agar saya tidak lagi menjadi beban bangsa. Kedepannya, saya akan berusaha membangun desa Gn.Sari menjadi lebih baik dari kondisi sebelumnya.

Tempat ketiga yaitu Bandung. Saya berharap, tempat ketiga ini tidak akan pernah berubah sampai kapanpun.

kebisuan pagi yang tak akan kau jumpai di jakarta.

kebisuan pagi yang tak akan kau jumpai di jakarta.

selamat tinggal jalan raya!

selamat tinggal jalan raya!

Pigura.

Akhir tahun kemarin, saya membuat pigura. Persegi panjang bentuknya, terbuat dari kayu imajiner dengan ukuran yang tak seberapa besar, tapi tak juga terlalu kecil untuk dipandang. Saya melukis cita-cita di dalam pigura itu dan beberapa menit lagi, saya akan memulai langkah pertama untuk menwujudkannya menjadi nyata.

Radio subuh tadi melantunkan alunan nada Kla-Project, buru-buru saya menggantinya dengan saluran lain. Sebab mendengarkan lagu “Yogyakarta” hanya akan menambah haru suasana menjelang keberangkatan saya menuju dusun yang letaknya sangat terpencil di tengah pulau Kalimantan. Tentu saja saya akan merindukan kota ini. Tapi saya berjanji agar tak terjebak dalam ketiadaan abadi yang terlalu lama.

Ya, saya pernah membaca bahwa rindu adalah ketiadaan abadi. Mengapa abadi? Sebab jika rindu itu sirna, maka ia tak lagi bernama rindu. Ia telah bermetamorfosa menjadi temu. Dan tentu saja, jika waktunya telah tiba, saya akan menuntaskan rindu.

Kedepannya saya mungkin sudah jarang lagi menulis di tumblr ini. Kalaupun sempat menulis, paling hanya berupa catatan-catatan singkat tentang berbagai hal yang saya temui selama disana. Selebihnya mungkin hanya berisi tentang potongan fragmen peristiwa yang terekam oleh kamera, itupun bila jaringan komunikasi memungkinkan. Tapi saya akan berusaha untuk tidak meninggalkan kegiatan membaca.

Adisucipto, 10 Januari 2014.

melangkah bersamamu. from sansime on 8tracks Radio.

nada-nada saat kita melangkah bersama.