sansime

Blog Stats
pelupuk malam saat partitur senja karam.
Bumi Manusia
Child of All Nations
Jejak Langkah
House of Glass
Penuntun kaum buruh
Di Bawah Lentera Merah: Riwayat Sarekat Islam Semarang Sampai Tahun 1920
The Communist Manifesto
Aku Ingin Jadi Peluru
Gugur Merah: Sehimpunan Puisi Lekra 1950-1965
Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto
Menggelinding 1

Pak Jokowi Capres?

Saat santai sore di pesisir Sungai Belayan, saya iseng membaca kabar-kabar yang datang dari pulau seberang. Agak terkejut saat saya menyimak tulisan dari berbagai media yang menyatakan bahwa Pak Jokowi dimandatkan oleh Ibu Megawati (PDI-P) untuk mencalonkan diri menjadi presiden.

Disini saya berpikir bahwa Ibu Mega terkesan buru-buru saat mengambil putusan ini di dalam pilpres 2014. Kenapa demikian? Menurut saya, program-program yang telah ditetapkan oleh Pak Jokowi sebagai Gubernur Jakarta belum semuanya terlaksana dan dapat dirasakan oleh warga Ibukota. Saya jadi bertanya: “Kenapa ya kok Bu Mega buru-buru ngajuin Pak Jokowi jadi Capres?” dan “Kenapa Bu Mega nggak ngasih kesempatan dulu aja buat Pak Jokowi berkarya selama ia menjabat sebagai gubernur?” Kan kalau begitu skenarionya, Bu Mega bisa mengevaluasi kinerja Pak Jokowi selama beliau menjabat gubernur Jakarta kemudian dapat dinilai oleh musyawarah besar/ kongres partai yang nantinya dapat dinyatakan layak/ tidaknya bagi Pak Jokowi maju capres lima tahun yang akan datang.

Bukannya saya pesimis pada kemampuan Pak Jokowi maupun Bu Mega dan PDI-P, hanya saja strategi politik Bu Mega sangat tidak terkonsep dan terkesan mau cepatnya saja (instan) dengan melihat pamor Pak Jokowi yang sedang naik daun tanpa melihat kondisi aktual yang telah dikerjakan oleh Pak Jokowi selama ini. Sebab permasalahannya adalah harapan yang diusung oleh rakyat kepada Pak Jokowi sangat-sangatlah tinggi untuk memperbaiki bangsa ini. Nah, jangan sampai nantinya hal ini justru menjadi boomerang bagi Pak Jokowi dan PDI-P saat nantinya harapan tersebut sirna lantaran tak mampu dipenuhi oleh Pak Jokowi selama ia (jika menang) menjadi presiden.

Jadi hemat saya sebagai orang awam yang menulis opini politik, seharusnya Ibu Mega memperkokoh dulu pondasi partainya yang masih banyak celah dan membiarkan Pak Jokowi matang ditempa Jakarta hingga beliau benar-benar siap membenahi Indonesia di tahun 2019.

Yah, demikian yang masih mengganjal di kepala saya selepas sore tadi.

Bandung, 7-9 Maret 2014.

(:

Buku catatan ini merupakan pemberian dari Inten saat saya berkunjung ke Bandung sebagai alternatif bagi saya bila tak lagi sempat menulis online di tumblr selama berada di Desa Gunung Sari, Tabang - Kalimantan Timur.
Pesan yang tertera dari Pramoedya di bagian Sampul dan Halaman Penutup dari buku catatan ini akan selalu saya ingat di hari ini dan hari depan yang akan datang menyapa. Terimakasih, Inten.

Tempat Ketiga.

Hangat lampu malam Adisucipto memeluk langkah ini saat mendarat di atas landasan bandara yang masih basah sisa hujan kala senja setelah enam minggu lamanya saya menjelajah waktu di tanah rantau.

Mulai tahun ini, kehidupan saya berpindah-pindah. Warna hijau pada tabel dibawah adalah hak yang saya miliki untuk bervakansi. Sedangkan tabel warna putih adalah jadwal saya untuk bekerja. Warna merah adalah jatah libur yang dapat saya ambil di sela-sela waktu kerja.

image

Ada tiga tempat yang akan menjadi destinasi tetap untuk selalu saya singgahi. Pertama, tentu saja Yogyakarta. Tempat dimana saya dilahirkan. Ibukota bagi diri saya sendiri. Kemanapun kaki ini melangkah, Yogyakarta adalah rumah, tempat bersandar melepas lelah, tempat untuk berbagi cerita bersama sahabat dan kawan-kawan hingga malam menepi di penghujung pagi, serta, sebagai tempat untuk memberi senyum hangat pada ibu saya di sepanjang hari-hari tuanya ini.

Tempat kedua yang akan menjadi destinasi berikutnya adalah desa Gunung Sari, Tabang - Kalimantan Timur. Dulu, ketika berstatus masih menjadi pelajar dan mahasiswa, saya adalah harapan bangsa. Kemudian ketika lulus dari perguruan tinggi dan belum mendapatkan pekerjaan, status saya adalah beban bangsa. Desa Gn.Sari adalah tempat bagi saya untuk berkarya agar saya tidak lagi menjadi beban bangsa. Kedepannya, saya akan berusaha membangun desa Gn.Sari menjadi lebih baik dari kondisi sebelumnya.

Tempat ketiga yaitu Bandung. Saya berharap, tempat ketiga ini tidak akan pernah berubah sampai kapanpun.

kebisuan pagi yang tak akan kau jumpai di jakarta.

kebisuan pagi yang tak akan kau jumpai di jakarta.

selamat tinggal jalan raya!

selamat tinggal jalan raya!

Pigura.

Akhir tahun kemarin, saya membuat pigura. Persegi panjang bentuknya, terbuat dari kayu imajiner dengan ukuran yang tak seberapa besar, tapi tak juga terlalu kecil untuk dipandang. Saya melukis cita-cita di dalam pigura itu dan beberapa menit lagi, saya akan memulai langkah pertama untuk menwujudkannya menjadi nyata.

Radio subuh tadi melantunkan alunan nada Kla-Project, buru-buru saya menggantinya dengan saluran lain. Sebab mendengarkan lagu “Yogyakarta” hanya akan menambah haru suasana menjelang keberangkatan saya menuju dusun yang letaknya sangat terpencil di tengah pulau Kalimantan. Tentu saja saya akan merindukan kota ini. Tapi saya berjanji agar tak terjebak dalam ketiadaan abadi yang terlalu lama.

Ya, saya pernah membaca bahwa rindu adalah ketiadaan abadi. Mengapa abadi? Sebab jika rindu itu sirna, maka ia tak lagi bernama rindu. Ia telah bermetamorfosa menjadi temu. Dan tentu saja, jika waktunya telah tiba, saya akan menuntaskan rindu.

Kedepannya saya mungkin sudah jarang lagi menulis di tumblr ini. Kalaupun sempat menulis, paling hanya berupa catatan-catatan singkat tentang berbagai hal yang saya temui selama disana. Selebihnya mungkin hanya berisi tentang potongan fragmen peristiwa yang terekam oleh kamera, itupun bila jaringan komunikasi memungkinkan. Tapi saya akan berusaha untuk tidak meninggalkan kegiatan membaca.

Adisucipto, 10 Januari 2014.

nada-nada saat kita melangkah bersama.

Childs – Mariana (110 plays)

Lyric:

「節子は、そのまま目を覚まさなかった」
「昭和20年9月21日夜、僕は死んだ」

(节子她在那以后再也没有醒来,昭和20年9月21日那晚,我死了)

僕は死んだ。
僕は死んだ。

She never woke up.
She never woke up.

September 21st ,1945,that was the night I died.

-

Catatan:

Kalau kamu pernah nonton Grave of the Fireflies (1988), kamu akan kembali ke masa itu dan jangan mendengarkannya saat berkendara.

Balada Engineer.

  • Pada suatu sore,
  • X: Kak, kerjaan enjinir itu gampang apa susah sih?
  • Y: Gampang kok.
  • X: Masa? bukannya banyak rumus-rumus hitungannya ya?
  • Y: Ga juga, kerjaan enjinir itu mencipta angan dalam pikiran.
  • X: Ooohh, kirain susah.
  • Y: Yang susah itu cara mewujudkan angan tadi menjadi nyata.
  • X: ...

Setengah Abad.

Mama, selamat memetik usia yang baru ya. Hanya ucapan terimakasih yang bisa kuberikan di hari ulang tahun Mama yang ke-50 ini. Terimakasih sudah menjagaku sejak dalam kandungan. Terimakasih sudah mengajarkanku membaca, menulis dan berhitung sebagai bekal untukku di hari depan kelak. Terimakasih sudah merawatku dikala aku jatuh sakit dan terimakasih tak terhingga untuk setiap kasih yang pernah Mama berikan di sepanjang rentang waktu yang tak singkat itu. Tetap menjadi muda ya Ma, sebab usia hanyalah angka. Sehat selalu, Mom! (:

Menyikapi Masa-Masa Sulit United.

Kepada seluruh suporter Manchester United, mari sejenak kembali ke era 80-an. Pada saat itu, United dipimpin oleh manager kelahiran Liverpool, Ron Atkinson. Di masa kepemimpinannya, Atkinson sempat memecahkan rekor transfer pemain termahal di Inggris saat menghadirkan mantan pemainnya sendiri Bryan Robson dari West Bromwich Albion dan beberapa tambahan pemain baru lainnya seperti Jesper Olsen, Paul McGrath dan Gordon Strachan untuk bergabung bersama Norman Whiteside dan Mark Hughes di line-up United. Tiga tahun berjalan, United berhasil memenangkan 2 Piala FA dan diunggulkan untuk menjuarai Liga Inggris pada musim 1985-86 setelah meraih 30 poin penuh pada 10 pertandingan awal. Namun tak lama setelah itu, performa United justru kian memburuk, bahkan sangat buruk, hingga berlanjut sampai di akhir musim, United hampir saja terdegradasi.

Suporter marah. Mental pemain semakin terpuruk. Atkinson dipecat.

Ditengah keadaan klub yang sedang dilanda kekacauan itulah manager asal Skotlandia, Alex Ferguson dan asistennya Archie Knox datang dari kota Aberdeen untuk menggantikan peran Atkinson di kursi manager.

Alex Ferguson mengawali kiprah pertamanya bersama United pada musim 1986-87 dan cukup berhasil memperbaiki keadaan dengan finis di posisi ke-11. Ya, seorang Fergie yang pada saat itu “belum menjadi siapa-siapa” hanya mampu membawa United di papan tengah saja. Namun hasil itu setidaknya dinilai cukup baik daripada hasil yang diraih Atkinson pada musim sebelumnya. Musim berikutnya bergulir. Fergie membuat kejutan dengan membawa United finis di posisi runner-up.

Apa yang terjadi setelah itu? Tak lain adalah tekanan dan harapan yang kian besar menjadi beban Fergie dari para suporter dan klub untuk membawa United menjuarai Liga Inggris di musim mendatang. Tak tanggung-tanggung, Fergie diberi keleluasaan untuk mendatangkan sejumlah pemain-pemain berkualitas demi menghadirkan trofi Liga Inggris di Old Trafford. Namun saking banyaknya pemain, United justru mengalami 2 musim yang sangat sulit dengan hanya mampu finis di papan tengah dan karier fergie di United terancam berakhir. Beruntung, pada 17 Mei 1990, Piala FA-lah yang menyelamatkan karier Fergie setelah United mengalahkan Crystal Palace di partai ulang final Piala FA dengan kemenangan 0-1 setelah pertandingan sebelumnya United bermain imbang 3-3 di Wembley Stadium, London.

Musim-musim berikutnya Fergie mulai bisa beradaptasi dengan United dan berani merombak sejumlah pemain di dalam tim yang sesuai dengan kriteria yang ia butuhkan. Fergie jelas sudah trauma bila mendatangkan pemain besar-besaran yang justru membuat tim semakin terpuruk seperti yang pernah dialami pada musim sebelumnya. Ia tak ingin mengulang kesalahan itu dan kemudian lebih memilih fokus pada anak-anak didiknya di Manchester United Soccer School & Academy. Fergie hanya mendatangkan sedikit saja pemain dari luar, seperti, Eric Cantona pada bulan November 1992 dan akhirnya berhasil menjuarai Liga Inggris pada musim 1992-93 atau hemat saya, Fergie baru saja berhasil membawa United menjuarai Liga Inggris setelah ia memimpin selama 7 tahun.

Apa yang saya paparkan di atas menunjukan bahwa Fergie juga pernah memiliki masa-masa sulit saat menangani United dan mampu bangkit lagi setelah 7 tahun bersusah payah membangun sebuah tim yang solid dibawah bayangan rival-rival utamanya seperti Liverpool, Arsenal dan Everton yang mendominasi daratan Inggris di era 80-an. Bayangkan saja, bagaimana para suporter yang kerap tertunduk dan menerima cemooh dari para haters tiap kali menerima berbagai kekalahan pahit dari klub-klub besar tadi dan harus bersabar sejak tahun 1967 hingga 1993 atau selama seperempat abad puasa gelar Liga Inggris.

Lalu bagaimana dengan David Moyes saat ini? Pergantian manager dari Fergie kepada Moyes tentu berbeda situasinya dikala Fergie menggantikan Atkinson. Moyes menggantikan Fergie pada saat United baru saja usai menggelar pesta juara Liga Inggris di Old Trafford pada musim 2012-13. Ekspektasi dan harapan dari para suporter dan klub tentu sangatlah besar menaungi pundak mantan manager Everton ini. Moyes dituntut agar bisa mempertahan gelar juara atau minimal finis di papan atas Liga Inggris untuk mendapatkan tiket Liga Champions musim depan. Tak heran bila dalam beberapa laga uji coba hingga bergulirnya Liga Inggris musim 2013-14, Moyes kerap kali terlihat gugup dan melakukan banyak eksperimen di dalam tim untuk memenuhi semua itu.

Dimasa transisi itulah Fergie menitipkan sebuah pesan yang masih hangat bersemayam di kepala kita semua—para suporter United, bahwa, Your job now is to stand by our new manager.Ya, benar kata Fergie, seharusnya peran saya dan para suporter United lainnya adalah tetap mendukung manager United yang baru, bukannya malah pergi meninggalkan Old Trafford saat pertandingan belum usai. Pesan yang disampaikan Fergie ini tak lain adalah refleksi tatkala ia pertama kali memimpin United dari keterpurukan di musim 1986-87. Selama 7 tahun ia tetap mendapatkan dukungan dan kepercayaan dari para suporter dan klub hingga ia kembali berhasil membangunkan Red Devils dari mimpi buruk yang berkepanjangan.

Hasil buruk yang diraih Manchester United dalam 4 laga beruntun (pekan ke 12-15) di Liga Inggris 2013-14 tak sepenuhnya merupakan kesalahan Moyes. Akuilah saja bahwa banyak pemain United yang tidak disiplin dan sering melakukan kesalahan-kesalahan kecil dan dapat berakibat fatal bagi pertahanan United. Akuilah saja jika lini belakang yang dipimpin Vidic memiliki koordinasi yang lemah. Akuilah saja jika umpan mendatar Valencia dari sayap kanan mudah dibaca dan gampang di-block oleh lawan. Akuilah saja jika Nani & Welbeck terlalu lama membawa bola, sering kehilangan bola dan passing-nya acap kali tidak akurat sehingga para striker sering bekerja sendiri di lini depan. Akuilah saja jika Fellaini, Anderson, Cleverley, Kagawa dan Jones tidak mampu menjadi penyeimbang lini tengah seperti yang dilakukan oleh Giggs dan Carrick saat ini. Biarkanlah Moyes bekerja untuk mengatasi semua itu bagi United. Tidak ada yang pernah tahu sampai kapan The Chosen One bertahan di United. Tugas para suporter adalah untuk tetap bersamanya seperti pesan yang pernah dititpkan Fergie kepada klub dan para suporter saat ia pensiun.

Satu hal yang paling saya ingat semasa kepemimpinan Fergie di masa sulit United, ia pernah berpesan: "If you can’t support us when we lose, you can’t support us when we win." Jadi, menyikapi masa-masa sulit yang sedang dilalui oleh Mancherster United saat ini, saya akan tetap memberikan support seperti Sir Bobby Charlton yang tetap setia hadir di Old Trafford walaupun usianya sudah sangat senja.

Bagaimana dengan anda?

GGMU!

"Dan seolah mereka melepas kepergian Nelson Mandela dengan duka cita yang mendalam disaat mereka masih saja risih bila berdekatan dengan orang-orang Papua dan menggunakan kata “Negro” saat membicarakan orang-orang berkulit hitam."

— sansime

Anda Tahu Bom Molotov?

Di Indonesia orang-orang berpemahaman bahwa bom molotov terbuat dari sebuah botol yang diisi bensin lalu dinyalakan dan dilempar pada sasaran. Saya tidak mengatakan hal tersebut salah namun sejatinya bom molotov bukan seperti itu. Bom molotov memerlukan bahan kimia (seperti amonium nitrat) dalam jumlah tertentu lalu dicampurkan dengan fuel (bensin) sehingga ketika kedua unsur ini bereaksi diharapkan dapat menimbulkan suatu ledakan yang tinggi dan menghasilkan gas-gas beracun yang disebabkan oleh ketidaksetimbangan oksigen. Dalam penggunannya, bom molotov tidak dinyalakan api sebagaimana yang terlihat sekarang, sebab dulunya, molotov diterapkan secara sembunyi-sembunyi seperti pada aksi gerakan gerilya. Bom molotov cukup dilemparkan saja dengan teknik hit and run, sehingga saat ia membentur sasaran: “boom!”

Siapa yang menerapkan teknik penggunaan bom molotov seperti ini? Tak lain ia adalah seorang dokter kelahiran Argentina yang bernama Che Guevara lewat buku yang pernah ditulisnya setengah abad silam yang berjudul: La Guerra de Guerrilas. Dalam buku tersebut dijelaskan secara rinci bagaimana cara membuat dan menggunakan bom molotov sebagai salah satu strategi untuk melawan senjata-senjata pemerintah yang fasis demi menggulingkan sebuah tirani. Berkat perjuangannya tersebut, potret seorang Che tentu sudah tak asing lagi digunakan sebagai simbol perlawanan dimana-mana. Bahkan Sartre pernah bilang, Che adalah manusia yang paling lengkap di zaman kita. Namun sejauh mana orang-orang mengenal Che? Apakah Che hanya dikenal sebatas simbol saja layaknya mereka yang mengaku-ngaku tahu cara membuat dan menggunakan bom molotov?

Melihat latar belakang Che, sebetulnya ia adalah orang yang biasa saja. Ia anak dari keluarga borjuis. Anak orang kaya. Sedari kecil, Che mengidap penyakit asma sehingga keluarganya memindahkannya ke daerah pegunungan nan elit untuk mendapat perawatan. Apakah masa kecil yang mewah seperti itu membuat Che memiliki sifat yang berani? Menurut saya tidak. Namun dari pengalamannya itulah Che kemudian menjadi seorang yang dingin untuk terus berjuang melawan penyakitnya sendiri. Penyakit itu pula yang membuat Che tidak banyak memiliki pilihan beraktivitas selain membaca dan menulis sehingga pengetahuannya menjadi sedemikian banyak. Jadi, sebenarnya ia bukanlah orang yang berani sejak lahir, namun proseslah yang membuat ia untuk terus terlatih berpikir, menulis dan bertindak dengan berani seperti rangkaian bom molotov yang ia pikirkan secara rinci komposisi apa saja yang harus terkandung di dalamnya.

Ironis sekali jika melihat kenyataan dalam beberapa tahun belakangan ini, Che hanya menjadi sebuah simbol saja bagi kebanyakan orang-orang tanpa mereka pernah mau menyelami lebih dalam pemikiran-pemikirannya. Sebagai contoh kecil saat saya menjumpai kawanan pemuda yang menggunakan atribut-atribut Che saat melintas di bawah lampu-lampu temaram kota Yogya. Mereka terkapar di trotoar sembari masing-masing dari mereka memeluk beberapa botol minuman beralkohol yang masih tersisa. Saya jadi bertanya pada diri saya sendiri: apakah mereka benar-benar tidak tahu bahwa Che tidak pernah minum alkohol seumur hidupnya? Che tidak pernah minum alkohol dan mereka harusnya malu telah mabuk-mabukan di jalan dengan atribut-atribut Che yang mereka kenakan.

Dalam catatan hariannya sendiri, berkali-kali ia menulis tidak ingin menjadi suatu individu. Memang benar, sebagai manusia, Che luar biasa. Namun Ia bukanlah seorang comandante yang patut dipuja-puja secara membabi-buta.

Tanggapan: Profesi dan Resiko.

behindofme replied to your post: Profesi dan Resiko.

nah! gambaran yang anda berikan persis sekali dengan yang teman saya bilang 2 hari lalu. Mungkin karena kita (terbiasa) dengan hal logika dan teknik. Sekalinya salah ya harus ikut prosedur hukum tanpa pengecualian kan (?)
Hehe mungkin ya. Iya, siapapun dan sepahit apapun kasus yang dialami, maka ia harus menjalani proses hukum yang berlaku.
nah, kalo setiap profesi punya risiko, harusnya yang patut disadari juga bahwa setiap tindakan medis sekecil apapun juga punya risiko kan, ya kita jalan di trotoar juga punya risiko ditabrak truk, apalagi operasi. Baca kasus dr. Ayu-nya lebih detail
nah, siapa sih yang ga sedih, kalo uda bekerja bener tapi masih tetep disalahin gara gara pasien ga selamat. Emboli ketuban kan ssuatu yg g bisa diprediksi ama manusia. Aduh jadi panjang komennya. Hahaha
Hahaha, tidak apa-apa, komentar panjang silahkan saja. Kebetulan saat ini negeri kita telah membebaskan rakyatnya untuk berpendapat apa saja. Malah lebih bagus lagi bila anda juga membuat tulisan yang terkait dengan kasus ini menurut opini anda. Berikut akan coba saya beri beberapa tanggapan.
Ya! setiap tindakan medis sekecil apapun pasti mempunyai resiko. Oleh sebab itu, setiap kali pasien hendak dioperasi (bahkan bila pasien hanya diambil sample darahnya saja) selalu diminta untuk membubuhkan tanda tangan di surat persetujuan antara pasien, dokter dan pihak rumah sakit bila terjadi resiko-resiko yang tidak dapat diprediksi seperti kasus Emboli seperti yang anda tuliskan di atas.
Untuk kasus dr. Ayu dan tim, saya sudah membaca dengan detail. Bahkan dalam dialog di Kompas Malam yang ditayangkan oleh Kompas-TV, salah satu narsum yang bernama dr. Marius pada saat itu mengatakan  “Karena saya tahu kasus ini dengan jelas, maka saya menolak Aksi solidaritas besok.” Bisa anda bayangkan betapa beratnya berpendirian seperti itu diantara teman-teman sejawat sesama dokter yang akan tetap menggelar aksi mogok karena ia mengerti dengan baik tentang kasus ini. Beberapa kejanggalan dijumpai pada kasus ini, diantaranya: Kronologi tanda tangan yang tertera di dalam surat perjanjian tersebut menurut Artidjo Alkostar (Hakim MA yang menangani kasus ini), dr. Ayu menugasi dr. Hendy untuk memberi tahu rencana tindakan kepada pasien dan keluarganya. Namun dr Hendy tidak melakukannya, ia justru menyerahkan lembar persetujuan tindakan yang telah ditandatangani Julia (pasien) kepada dr. Ayu, tapi ternyata (sekali lagi ini menurut Hakim MA) tanda tangan di dalamnya palsu. Kemudian sebagian tindakan medis dr. Ayu dan tim tidak dimasukkan ke dalam rekam medis. Terlebih lagi pada saat itu (tahun 2010) dr. Ayu belum lulus menjadi dokter Spesialis Obstetri Ginekologi (Sp.OG). Lantas menurut anda apakah hal tersebut layak dikategorikan telah memenuhi prosedur?
Sekali lagi saya bukan seorang Sherlock yang turut terjun langsung di TKP untuk mengungkap fakta-fakta yang ada. Saya hanya seorang pembaca informasi terkait kasus yang menimpa dr. Ayu tanpa adanya tendensi perasaan sedih, kasihan apalagi membenci dr. Ayu dan tim serta para dokter lainnya, sehingga saya lebih bisa bersikap netral dalam menyikapi persoalan. Justru bila diizinkan menggunakan perasaan, saya lebih merasa sedih kepada para pasien yang tidak bisa berobat atau dilayani oleh minimnya para dokter yang bertugas di rumah sakit pada tanggal 27 November 2013 kemarin. Berikut ada beberapa peristiwa yang sempat terekam oleh media:
Atas dasar-dasar itulah saya menulis tentang Profesi dan Resiko tanpa adanya tendensi apapun. Jadi bila tulisan saya dibedah dan dikembalikan menjadi draft, maka draft penulisan awal hanya berbunyi sesederhana ini: “Benar tetaplah benar. Salah tetaplah salah. Pada akhirnya, semua harus siap menerima resiko dan segala konsekuensinya.”
Terimakasih atas semua tanggapannya. Semoga sakit tidak menyentuh semua kita. Sehat selalu semesta dan seluruh isinya! (: